Legenda Mermaid atau Putri Duyung

Dari Jepang
Dalam kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya, Jepang, asal usul putri duyung dikaitkan dengan kisah kuno sekitar 1.400 tahun lalu tentang seorang nelayan yang dikutuk karena melanggar janji.

Nelayan tersebut berjanji untuk tidak memakan makanan yang bersumber dari hewan, namun ia mengingkarinya. Ia justru membunuh banyak hewan untuk diambil dagingnya dan dimakan.

Pada akhirnya pengingkaran itu membuatnya mengalami musibah, wujudnya berubah menjadi sosok monster setengah ikan dan menghilang ditelan laut.

Legenda mengenai duyung monster ini muncul pada masa Putra Mahkota Jepang Shotoku (Shotoku Taishi) di tahun 574-622 Masehi. Saat itu Shotoku berjalan melintas tepian Danau Biwa. Saat ia menyepi tiba-tiba muncul sesosok monster dari dalam danau yang berseru pada Shotoku bahwa ia adalah seorang nelayan yang dikutuk menjadi monster duyung bertubuh setengah orang setengah ikan, karena perbuatan di masa lalunya yang sering membunuh hewan untuk disantap.

Ia mengaku baru memahami kekeliruannya dan berharap agar ia menjadi peringatan bagi seluruh manusia agar tidak melakukan pembunuhan terhadap satwa. Pesan ini disampaikan untuk dunia di masa depan. Karena itu monster tersebut minta agar setelah mati, tubuhnya dikeringkan dan ditempatkan di sebuah kuil sebagai peringatan bagi umat manusia.


Setelah menyampaikan pesan-pesan itu monster duyung itu kemudian mati.

Shotoku merenungkan ucapan yang barusan didengarnya itu dan mengeringkan duyung tersebut menjadi mummi. Sesuai permintaan sang duyung, putra mahkota mendirikan sebuah kuil untuk mumi sang duyung.

Konon, sampai saat ini mumi duyung tersebut masih tersimpan di kuil Shinto Fujinomiya dan menjadi satu-satunya mumi duyung di dunia.

Dari Eropa
Saat melintasi perairan Karibia menuju Rio del Oro pada 1493, Christopher Columbus menulis dalam jurnalnya,

“…tampak tiga putri duyung yang muncul cukup tinggi di atas permukaan air. Namun mereka tak secantik dalam lukisan, walau mereka memiliki rupa manusia…,” seperti dikutip dari The Diary of Christopher Columbus, 9 Januari 1493.

Seperti para penjelajah dari Eropa, Columbus meyakini keberadaan putri duyung.


Sebelum mitos tentang putri duyung dimulai, bangsa Yunani terlebih dulu mengenal siren –anak-anak perempuan Dewa Sungai Achelous yang kemudian berubah menjadi perempuan dengan sayap burung dan bersuara merdu. Meski banyak versi tentang asal-usul siren, semuanya menyimpulkan satu hal :

Siren, dengan nyanyian cinta dan kata-kata manis, membujuk para pelaut untuk mengubah haluan dan datang ke pulau mereka, lalu dimangsa.

Anda mungkin juga ingin membaca :

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar